Acerbophobia: Ketakutan pada asam.
Acousticophobia: Ketakutan pada suara.
Acrophobia / Hypsophobia: Ketakutan pada tempat yang tinggi.
Aerophobia / Anemophobia: Ketakutan serta panik apabila kulit mereka terkena aliran udara.
Agoraphobia / Kenophobia: Ketakutan pada ruang yang kosong atau terbuka.
Agyophobia: Ketakutan akan jalan yang ramai dan cenderung takut untuk menyeberang.
Allodoxaphobia: Takut pada pendapat.
Amatophobia: Ketakutan pada debu.
Amaxophobia: Ketakutan berkendaraan.
Amychophobia: Ketakutan apabila dirinya disiksa atau mengalami luka / kecelakaan.
Androphobia: Androphobia dijumpai pada wanita, yaitu ketakutan pada laki-laki.
Anemophobia: Takut pada pergerakan udara atau angin.
Anthophobia: Ketakutan terhadap bunga.
Anthrophobia / Sociophobia: Ketakutan pada masyarakat atau orang secara umum.
Antlophobia: Ketakutan pada sungai, banjir atau air yang mengalir.
Apeirophobia: Ketakutan pada hal-hal yang tak terbatas, misalnya: sumur, langit, laut, dll.
Apiphobia / Melissophobia: Ketakutan pada binatang yang menyengat.
Arachnephobia: Ketakutan pada laba-laba.
Asthenophobia: Ketakutan menjadi lemah.
Astrophobia: Ketakutan pada langit dan angkasa.
Ataxophobia: Takut pada kekacauan atau ketidakrapian.
Atephobia: Takut tinggal di pegunungan atau dirumah bertingkat karena dibayangi oleh ketakutan akan reruntuhan.
Auroraphobia: Ketakutan pada aurora atau cahaya utara, yaitu suatu fenomena alam yang hanya tampak di daerah belahan utara bumi.
Automanophobia: Takut pada suara perut, makhluk animasi, patung lilin, segala sesuatu yang secara salah merepresentasikan makhluk yang memiliki persepsi.
Autophobia: Ketakutan pada diri sendiri.
Bacilliophobia / Microphobia: Ketakutan akan baksil atau kuman.
Ballistophobia: Ketakutan terhadap proyektil, misalnya peluru kendali, roket, mortir atau meriam.
Basophobia / Stasiphobia: Ketakutan untuk berdiri tegak atau ketakutan untuk berjalan.
Bathophobia: Ketakutan akan kedalaman atau obyek yang lebih tinggi, misalnya gedung pencakar langit atau tebing yang curam.
Belonephobia / Aichmophobia: Ketakutan pada benda-benda yang tajam.
Bibliophobia: Ketakutan bila melihat buku.
Botophobia: Ketakutan pada ruang atau kamar dibawah tanah.
Bromhidrophobia: Ketakutan bila dirinya mengeluarkan bau badan atau takut kepada bau badan orang lain.
Brontophobia: Ketakutan akan suara halilintar.
Bufonophobia: Takut pada katak.
Cancerphobia: Ketakutan akan akan penyakit kanker.
Cheimaphobia / Psycrophobia: Ketakutan bila kedinginan.
Chermatophobia: Ketakutan terhadap uang.
Chromatophobia: Ketakutan akan warna-warna tertentu, misalnya ketakutan akan warna merah (erythrophobia). Phobia terhadap warna hitam lebih sering dihubungkan dengan phobia terhadap kegelapan (noctiphobia).
Chronophobia: Ketakutan pada suara jam berdentang.
Cibophobia: Takut makan karena takut menjadi sakit akibat kuman yang ada dalam makanan.
Claustrophobia: Ketakutan berada dalam ruangan sempit.
Cleithrophobia: Ketakutan apabila terkunci didalam suatu ruangan.
Clinicophobia: Ketakutan untuk ke dokter atau berobat.
Cremnophobia: Ketakutan berada di tebing yang curam.
Coitophobia: Ketakutan untuk melakukan persetubuhan dengan lawan jenis.
Coprophobia / Mysophobia / Tocophobia: Takut terhadap kotoran.
Crystallophobia / Hyalophobia: Ketakutan terhadap benda-benda yang terbuat dari gelas.
Cynophobia: Ketakutan terhadap anjing.
Demonophobia / Ghostphobia: Ketakutan akan setan-setan.
Diabetophobia: Takut terhadap penyakit diabetes / kencing manis.
Domatophobia / Oikophobia: Ketakutan yang terjadi bila berada didalam rumah.
Doraphobia: Ketakutan yang terjadi bila menjamah bulu binatang.
Dromophobia: Ketakutan untuk mengembara.
Dysmorphophobia / Teratophobia: Takut pada orang cacat.
Electrophobia: Ketakutan terhadap listrik.
Electrophobia: Ketakutan terhadap listrik.
Entomophobia / Melissophobia: Ketakutan pada serangga.
Ereutophobia: Ketakutan akan rasa malu.
Ergophobia: Takut bekerja.
Erotophobia: Takut akan cinta sexuil.
Eurotophobia: Takut pada alat kelamin wanita.
Galeophobia / Ailurophobia / Gatophobia: Takut akan kucing.
Gamaphobia: Takut akan perkawinan.
Genophobia: Takut sakit demam panas.
Gephyrophobia / Gephydrophobia / Gephysrophobia: Takut menyeberang jembatan.
Gerontophobia: Ketakutan terhadap usia tua.
Graphophobia: Ketakutan bila melihat tulisan.
Gynaephobia: Perasaan takut kepada wanita.
Hadephobia: Takut akan neraka.
Hamartophobia: Takut akan dosa dan kesalahan.
Hapephobia: Ketakutan terhadap sentuhan fisik.
Hellenologophobia: Takut pada istilah atau terminologi ilmiah rumit dari bahasa Yunani.
Hierophobia: Ketakutan akan barang-barang suci.
Hematophobia: Ketakutan melihat darah.
Heliophobia: Ketakutan bila melihat atau terkena sinar matahari.
Hodophobia: Takut bepergian.
Homichlophobia: Ketakutan pada kabut.
Homophobia: Ketakutan pada orang-orang homo seks.
Hormephobia: Takut pada suatu kejutan.
Hydrophobia / Iyssophobia: Takut pada air.
Hygrophobia: Ketakutan pada tempat yang lembab.
Hylophobia: Ketakutan terhadap hutan.
Hypengyophobia: Ketakutan terhadap tanggung jawab.
Hypnophobia: Ketakutan untuk tidur.
Ichtyophobia: Ketakutan terhadap ikan.
Ideophobia: Ketakutan akan ide-ide.
Iophobia: Ketakutan bila melihat racun.
Kakorhaphiophobia: Takut akan kegagalan.
Kathisophobia: Takut duduk.
Kinesophobia: Takut melihat gerakan-gerakan.
Kleptophobia / Harpaxophobia: Takut pada pencuri atau perampok.
Linonophobia: Takut akan benang, tali atau senar.
Lygophobia: Takut berada di tempat gelap.
Lyssophobia: Takut bila menjadi gila.
Mastigophobia: Takut pada hukuman.
Merinthophobia: Ketakutan bila diikat.
Metallophobia: Ketakutan terhadap benda-benda logam.
Misophobia: Takut terkena kotoran atau kuman.
Monophobia: Takut bila ditinggal seorang diri.
Myctophobia: Takut akan apa-apa yang gelap.
Mythophobia: Takut untuk tertipu.
Necrophobia: Takut terhadap orang mati atau mayat.
Neophobia / Kainophobia: Takut pada segala sesuatu yang baru.
Nyctophobia: Takut gelap atau malam.
Obesitophobia: Ketakutan untuk menjadi gemuk.
Octophobia: Takut pada angka 8.
Odontophobia: Takut pada gigi binatang.
Ombrophobia: Takut pada hujan.
Onemophobia / Phronemophobia: Takut untuk berpikir.
Onomatophobia: Takut mendengar suatu nama tertentu.
Ophidiophobia: Takut akan ular atau binatang melata.
Ophthalmophobia / Scopophobia: Takut dilihat oleh orang lain.
Oneirophobia: Takut pada mimpi.
Ornithophobia: Takut pada burung.
Papyrophobia: Takut pada kertas.
Paraphobia: Takut pada penyimpangan seksual.
Pathophobia / Nosophobia: Takut akan penyakit.
Peccatiphobia: Takut berbuat dosa.
Pedagogiephobia: Takut pada suatu pendidikan.
Pediculophobia: Takut pada binatang kutu.
Pedophobia: Takut berjumpa dengan anak-anak.
Pengophobia: Takut pada siang hari.
Pharmacophobia / Hydrargyrophobia: Takut terhadap berbagai macam obat-obatan.
Photophobia: Takut akan sinar atau cahaya.
Phobophobia: Takut pada phobia.
Phonophobia: Takut pada bunyi atau suara (termasuk suaranya sendiri).
Pnygophobia: Ketakutan akan bayangan kematian tidak dapat bernapas atau tercekik.
Pyrexeophobia / Febriphobia: Takut pada panas.
Pyrophobia: Takut terhadap api.
Rhabdophobia: Takut dipukul.
Rodentiophobia: Takut terhadap tikus.
Scatophobia: Takut pada kotoran atau tinja.
Scelerophobia: Takut pada orang-orang jahat / perampok.
Selaphobia: Takut pada kilat.
Siderodromophobia: Takut pada kereta api, rel atau perjalanan dengan menggunakan kereta api.
Social Phobia: Takut dinilai secara negatif dalam situasi-situasi sosial.
Sociophobia / Ochlophobia / Polyphobia: Ketakutan akan sekumpulan orang.
Surgerophobia: Ketakutan untuk menjalani suatu operasi.
Taphephobia: Ketakutan apabila dikubur hidup-hidup.
Telephonophobia: Takut pada telepon.
Teratophobia: Ketakutan akan melahirkan anak cacat atau anak yang menyerupai monster.
Thalassophobia: Ketakutan terhadap lautan.
Thanatophobia / Thantophobia: Takut pada kematian.
Theophobia: Ketakutan terhadap Tuhan.
Tocophobia / Maieusiophobia: Takut bila melihat kelahiran bayi.
Toxicophobia: Takut akan diracun.
Trichophobia: Ketakutan pada rambut atau bulu.
Triskaidekaphobia: Ketakutan pada bilangan 13.
Ufophobia: Ketakutan akan munculnya makhluk angkasa luar.
Vaccinophobia: Takut di suntik.
Verminophobia: Takut pada kuman.
Vermiphobia / Helminthophobia: Takut pada cacing.
Xenophobia: Ketakutan pada orang asing atau orang dari negara asing.
Zoophobia: Takut pada binatang.
Tampilkan postingan dengan label hopefully useful. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hopefully useful. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Oktober 2008
Apa sih Pobia Sosial? a brief description
Pengertian
Social Phobia adalah kecemasan / ketakutan yang intens; menetap; berlebihan; tidak dapat dikendalikan dalam berbagai situasi social.
Situasi social yang memicu ketakutan tersebut di antaranya: berbicara dengan orang lain (baik familiar ataupun asing), tampil / menjadi pusat perhatian (membacakan pidato, presentasi), berkenalan dengan orang baru, makan di tempat umum, menggunakan fasilitas umum, menulis/tanda tangan di hadapan orang lain, dll.
Pengidap social phobia sering kali merasa cemas dan ketakutan dalam menghadapi situasi-situasi tersebut di atas. Rasa cemas mereka berlebihan dan irrasional. Mereka mengetahui bahwa rasa cemas mereka itu irrasional.
Mereka cenderung menghindari situasi-situasi tersebut dengan cara apapun, atau mereka tetap menghadapinya tetapi dengan distress yang besar. Namun, perlu diketahui penghindaran dari situasi-situasi yang dapat memunculkan kecemasan itu akan memperparah kondisi penderita karena penderita kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana cara menghadapi kecemasannya.
Penyebab
Social phobia dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
Symptomp/Gejala
Gejala-gejala social phobia dapat berbeda antara pengidap yang satu dengan yang lainnya. Ada yang mengalami phobia ringan, hingga severe phobia (phobia akut). Gejala Fisik (biasanya terjadi jika penderita tengah menghadapi situasi yang ditakutinya)
Tangan / seluruh tubuh yang gemetar
Suara bergetar / tidak dapat berkata sama sekali; mulut serasa sulit berucap baik karena malu atau karena takut akan mengatakan sesuatu hal yang salah / akan terasa memalukan.
Dada yang berdebar-debar
Mual / muntah
Pusing
Wajah memerah
Tubuh gelisah (tidak bisa diam)
Gejala Psikologis (Pemikiran; perasan)
Mempunyai harga diri yang rendah; rendah diri; minder; tidak percaya diri.
Merasa selalu diperhatikan orang.
Merasa semua orang sangat berkompeten kecuali dirinya yang tidak berkompeten sama sekali.
Merasa semua orang membencinya; semua orang menganggapnya buruk.
Merasa tidak berdaya, kacau, seolah dunia akan runtuh.
Selalu mempermasalahkan penampilan fisiknya dan caranya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Merasa satu / beberapa anggota tubuhnya lucu, aneh, sehingga patut menjadi bahan cemoohan orang lain.
Senang memperhatikan gerak-gerik orang lain, namun ketika ia sendiri yang diperhatikan, ia akan merasa sangat tidak nyaman.
Sensitif terhadap kritik (mudah marah).
Merasa dirinya bodoh, tidak berarti, laksana patung atau mayat hidup.
Tidak berani menatap mata orang yang berbicara dengannya.
Tidak berani berbicara dalam sebuah kelompok (besar maupun kecil).
Implikasi
Pengidap social phobia akan sangat khawatir mengenai masalah pekerjaan mereka. Bisa jadi mereka sering berganti-ganti kerja karena tidak pernah menemukan tempat yang nyaman untuknya. Bisa jadi mereka sama sekali tidak bekerja; isolasi diri; depresi, bahkan bunuh diri.
Pengobatan
Social phobia bukanlah gangguan jiwa yang mudah untuk dsembuhkan. Tidak cukup sekali terapi dan semua masalah akan selesai. Ketika seseorang mengalami social phobia, maka ia akan tetap mengidapnya sepanjang hidupnya.
Ada beberapa macam pengobatan yang terbukti efektif untuk menangani social phobia: Medis atau Obat-obatan
Obat-obatan yang dianjurkan oleh psikiater seperti obat dari golongan: MAOI, SSRI (Fluoxetin, Fluvoxamin, Citalopram,dll), Benzodiazepin (Valium, Alphrazolam, Panalzolam, dll). Obat-obatan tersebut tidak dijual bebas (harus dengan resep dokter). Untuk mengetahui lebih lanjut, konsultasikan dengan psikiater anda!
Pengobatan medis saja tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy).
Dalam therapi pikiran dan tingkah laku ini, pasien diajak berpikir lebih positif dan diberi berbagai keterampilan sosial dalam bergaul. Terapi ini terbukti efektif. Namun, membutuhkan kerja keras dan waktu yang tidak sebentar.
Hipnoterapipun bisa menjadi alternatif pengobatan.
TIPS bagi kamu yang socially phobia!
Istirahat teratur (cukup tidur)
Makan makanan cukup nutrisi (bergizi)
Olahraga
Relaxasi (dipijat mungkin!)
Mendekatkan diri pada Allah (Shalat malam dapat memberikan ketenangan)
Mengatur emosi
Fokus pada kegiatan / hobi yang disukai (membaca, menulis, menggambar, dll)
Jangan pernah mengisolasi diri. Sesulit apapun anda bersosialisasi, hadapilah. Itu dapat memberikan latihan tanpa anda sadari
Menerima diri apa adanya; selalu bersyukur
Jangan membandingkan diri dengan orang lain
Jangan terlalu memikirkan sesuatu (memperrumit masalah)
Santai, asal terlaksana
Jangan terlalu memikirkan penilaian / pemikiran orang lain tentang diri anda
Cobalah bersosialisasi dari hal-hal yang terkecil (ringan) hingga pada tingkat yang benar-benar membuat anda ketakutan.
Thanks Niez
Social Phobia adalah kecemasan / ketakutan yang intens; menetap; berlebihan; tidak dapat dikendalikan dalam berbagai situasi social.
Situasi social yang memicu ketakutan tersebut di antaranya: berbicara dengan orang lain (baik familiar ataupun asing), tampil / menjadi pusat perhatian (membacakan pidato, presentasi), berkenalan dengan orang baru, makan di tempat umum, menggunakan fasilitas umum, menulis/tanda tangan di hadapan orang lain, dll.
Pengidap social phobia sering kali merasa cemas dan ketakutan dalam menghadapi situasi-situasi tersebut di atas. Rasa cemas mereka berlebihan dan irrasional. Mereka mengetahui bahwa rasa cemas mereka itu irrasional.
Mereka cenderung menghindari situasi-situasi tersebut dengan cara apapun, atau mereka tetap menghadapinya tetapi dengan distress yang besar. Namun, perlu diketahui penghindaran dari situasi-situasi yang dapat memunculkan kecemasan itu akan memperparah kondisi penderita karena penderita kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana cara menghadapi kecemasannya.
Penyebab
Social phobia dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
- Gen / Keturunan
- Pola Asuh
- Trauma Masa Lalu
Symptomp/Gejala
Gejala-gejala social phobia dapat berbeda antara pengidap yang satu dengan yang lainnya. Ada yang mengalami phobia ringan, hingga severe phobia (phobia akut). Gejala Fisik (biasanya terjadi jika penderita tengah menghadapi situasi yang ditakutinya)
Tangan / seluruh tubuh yang gemetar
Suara bergetar / tidak dapat berkata sama sekali; mulut serasa sulit berucap baik karena malu atau karena takut akan mengatakan sesuatu hal yang salah / akan terasa memalukan.
Dada yang berdebar-debar
Mual / muntah
Pusing
Wajah memerah
Tubuh gelisah (tidak bisa diam)
Gejala Psikologis (Pemikiran; perasan)
Mempunyai harga diri yang rendah; rendah diri; minder; tidak percaya diri.
Merasa selalu diperhatikan orang.
Merasa semua orang sangat berkompeten kecuali dirinya yang tidak berkompeten sama sekali.
Merasa semua orang membencinya; semua orang menganggapnya buruk.
Merasa tidak berdaya, kacau, seolah dunia akan runtuh.
Selalu mempermasalahkan penampilan fisiknya dan caranya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Merasa satu / beberapa anggota tubuhnya lucu, aneh, sehingga patut menjadi bahan cemoohan orang lain.
Senang memperhatikan gerak-gerik orang lain, namun ketika ia sendiri yang diperhatikan, ia akan merasa sangat tidak nyaman.
Sensitif terhadap kritik (mudah marah).
Merasa dirinya bodoh, tidak berarti, laksana patung atau mayat hidup.
Tidak berani menatap mata orang yang berbicara dengannya.
Tidak berani berbicara dalam sebuah kelompok (besar maupun kecil).
Implikasi
Pengidap social phobia akan sangat khawatir mengenai masalah pekerjaan mereka. Bisa jadi mereka sering berganti-ganti kerja karena tidak pernah menemukan tempat yang nyaman untuknya. Bisa jadi mereka sama sekali tidak bekerja; isolasi diri; depresi, bahkan bunuh diri.
Pengobatan
Social phobia bukanlah gangguan jiwa yang mudah untuk dsembuhkan. Tidak cukup sekali terapi dan semua masalah akan selesai. Ketika seseorang mengalami social phobia, maka ia akan tetap mengidapnya sepanjang hidupnya.
Ada beberapa macam pengobatan yang terbukti efektif untuk menangani social phobia: Medis atau Obat-obatan
Obat-obatan yang dianjurkan oleh psikiater seperti obat dari golongan: MAOI, SSRI (Fluoxetin, Fluvoxamin, Citalopram,dll), Benzodiazepin (Valium, Alphrazolam, Panalzolam, dll). Obat-obatan tersebut tidak dijual bebas (harus dengan resep dokter). Untuk mengetahui lebih lanjut, konsultasikan dengan psikiater anda!
Pengobatan medis saja tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy).
Dalam therapi pikiran dan tingkah laku ini, pasien diajak berpikir lebih positif dan diberi berbagai keterampilan sosial dalam bergaul. Terapi ini terbukti efektif. Namun, membutuhkan kerja keras dan waktu yang tidak sebentar.
Hipnoterapipun bisa menjadi alternatif pengobatan.
TIPS bagi kamu yang socially phobia!
Istirahat teratur (cukup tidur)
Makan makanan cukup nutrisi (bergizi)
Olahraga
Relaxasi (dipijat mungkin!)
Mendekatkan diri pada Allah (Shalat malam dapat memberikan ketenangan)
Mengatur emosi
Fokus pada kegiatan / hobi yang disukai (membaca, menulis, menggambar, dll)
Jangan pernah mengisolasi diri. Sesulit apapun anda bersosialisasi, hadapilah. Itu dapat memberikan latihan tanpa anda sadari
Menerima diri apa adanya; selalu bersyukur
Jangan membandingkan diri dengan orang lain
Jangan terlalu memikirkan sesuatu (memperrumit masalah)
Santai, asal terlaksana
Jangan terlalu memikirkan penilaian / pemikiran orang lain tentang diri anda
Cobalah bersosialisasi dari hal-hal yang terkecil (ringan) hingga pada tingkat yang benar-benar membuat anda ketakutan.
Thanks Niez
Sabtu, 18 Oktober 2008
Sejarah Pobia Sosial
By Arlin Cuncic, About.com
Sejarah social anxiety disorder (SAD)/ ganguan kecemasan sosial atau pobia sosial baiknya digambarkan sebagai sebuah rangkaian peristiwa yang berujung pada diagnosis yang kita kenal sekarang. Walaupun diagnosis SAD belum begitu lama dikenal, ide tentang SAD berawal dari awal abad 20 lalu. Berikut adalah titik-titik bersejarah yang dapat disusun menjadi sejarah SAD.
Weiner IB, Freeheim DK. Handbook of psychology. New York: John Wiley & Sons; 2004.
Furmark T. Social phobia: From epidemiology to brain function [dissertation]. Uppsala, Sweden: Department of Psychology, Uppsala University; 2000.
Dibahasaindonesiakan sekedarnya dari: http://socialanxietydisorder.about.com/od/overviewofsad/a/history.htm
Sejarah social anxiety disorder (SAD)/ ganguan kecemasan sosial atau pobia sosial baiknya digambarkan sebagai sebuah rangkaian peristiwa yang berujung pada diagnosis yang kita kenal sekarang. Walaupun diagnosis SAD belum begitu lama dikenal, ide tentang SAD berawal dari awal abad 20 lalu. Berikut adalah titik-titik bersejarah yang dapat disusun menjadi sejarah SAD.
- 400 SM: konsep ketakutan sosial muncul sejak 400 SM. Ketika itu, Hippocrates menggambarkan orang yang memiliki rasa malu berlebih sebagai seseorang yang mencintai kegelapan dalam hidup dan berpikir setiap orang selalu memperhatikannya.
- Awal 1900an: pada awal abad 20, para psikiater menggunakan kosakata pobia sosial atau neurosis sosial untuk menunjuk pada pasien yang memiliki rasa malu extrim.
- 1950an: Ahli jiwa dari Afrika Selatan Joseph Wolpe menciptakan sebuah teknik untuk mengatasi pobia ini, yang kemudian dikembangkan dalam terapi behavioral.
- 1960an: Psikiater dari Inggris Isaac Marks mengusulkan agar pobia sosial dibedakan dari kategory pobia ringan lainnya.
- 1968: dalam edisi kedua the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II), yang dipublikasikan oleh American Psychiatric Association, ketakutan sosial dijelaskan sebagai sebuah pobia akan situasi sosial atau sebuah ketakutan yang melebihi batas wajar dari diperhatikan atau diniai orang lain. Pada titik sejarah ini, definisi pobia sosial menjadi sempit.
- 1980: dalam edisi ketiga DSM (DSM-III), pobia sosial dimasukkan dalam diagnosis kejiwaan resmi. Dalam edisi ini, pobia sosial digambarkan sebagai sebuah ketakutan akan situasi performance, dan tidak memasukkan ketakutan akan situasi yang kurang formal seperti pembicaraan informal/biasa sehari-hari. Orang dengan ketakutan yang lebih luas seperti ini lebih mungkin didiagnosis sebagai avoidant personality disorder (yang tidak dapat disamakan dengan pobia sosial).
- 1985: psikiater Michael Liebowitz dan clinical psychologist Richard Heimberg, mulai mengadakan penelitian mengenai pobia sosial. Sampai titik sejarah ini, penelitian akan gangguan jiwa ini kurang diadakan, sehingga beberapa menyebutnya sebagai ‘gangguan kecemasan yang terabaikan’.
- 1987: sebuah revisi DSM-III membawa perubahan pada beberapa kriteria diagnostic. Sekarang, sebuah diagnosis mengharuskan adanya gejala-gejala yang menyebabkan ‘interference or marked distress’/ ‘ kecemasan ekstrim yang dapat dengan mudah terlihat’ dari pada sekedar ‘significant distress’. Pada titik ini juga dimungkinkan untuk mendiagnosis pobia sosial dan avoidant personality disorder pada pasien yang sama. Akhirnya, term ‘generalized social anxiety disorder’ / ‘gangguan kecemasan sosial yang mempengaruhi sebagian atau seluruh tubuh’ muncul yang menunjuk pada bentuk gangguan yang lebih parah dan meluas.
- 1994: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders II (DSM –II) dipublikasikan dan term/kosakata social anxiety disorder (SAD) diganti dengan social phobia. Term baru ini digunakan untuk menunjuk betapa luasnya ketakutan yang ada dalam gangguan ini. Pada edisi baru ini, gangguan ini didefinisikan sebagai sebuah ‘ketakutan yang dapat jelas terlihat dan terjadi dalam waktu lama akan satu atau lebih situasi sosial atau performance, dimana orang yang bersangkutan diexpose/diperlihatkan pada orang asing/tak dikenal atau ada kemungkinan diperhatikan oleh orang lain”. Kriteria diagnostic sedikit dirubah dari DSM-III.
- 1995 – sampai sekarang: sejak dipublikasikannya DSM-IV, banyak penelitian yang difokuskan pada SAD. Teknik Cognitive-behavioral therapy dikembangkan dan didukung oleh fakta atau informasi dari investigasi ilmiah. Pada waktu yang sama, 4 treatment obat (Paxil, Zoloft, Effexor, and Luvox) diterima untuk mengatasi SAD. Dengan adanya perhatian yang meningkat, banyak orang yang sebelumnya mungkin misdiagnosis atau malah tidak terdiagnosis sama sekali dapat menerima pertolongan yang dia butuhkan. Tapi kalau di indonesia ya belum tentu ding!
Weiner IB, Freeheim DK. Handbook of psychology. New York: John Wiley & Sons; 2004.
Furmark T. Social phobia: From epidemiology to brain function [dissertation]. Uppsala, Sweden: Department of Psychology, Uppsala University; 2000.
Dibahasaindonesiakan sekedarnya dari: http://socialanxietydisorder.about.com/od/overviewofsad/a/history.htm
Langganan:
Postingan (Atom)
