Sabtu, 18 Oktober 2008

Sejarah Pobia Sosial

By Arlin Cuncic, About.com

Sejarah social anxiety disorder (SAD)/ ganguan kecemasan sosial atau pobia sosial baiknya digambarkan sebagai sebuah rangkaian peristiwa yang berujung pada diagnosis yang kita kenal sekarang. Walaupun diagnosis SAD belum begitu lama dikenal, ide tentang SAD berawal dari awal abad 20 lalu. Berikut adalah titik-titik bersejarah yang dapat disusun menjadi sejarah SAD.

  • 400 SM: konsep ketakutan sosial muncul sejak 400 SM. Ketika itu, Hippocrates menggambarkan orang yang memiliki rasa malu berlebih sebagai seseorang yang mencintai kegelapan dalam hidup dan berpikir setiap orang selalu memperhatikannya.
  • Awal 1900an: pada awal abad 20, para psikiater menggunakan kosakata pobia sosial atau neurosis sosial untuk menunjuk pada pasien yang memiliki rasa malu extrim.
  • 1950an: Ahli jiwa dari Afrika Selatan Joseph Wolpe menciptakan sebuah teknik untuk mengatasi pobia ini, yang kemudian dikembangkan dalam terapi behavioral.
  • 1960an: Psikiater dari Inggris Isaac Marks mengusulkan agar pobia sosial dibedakan dari kategory pobia ringan lainnya.
  • 1968: dalam edisi kedua the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II), yang dipublikasikan oleh American Psychiatric Association, ketakutan sosial dijelaskan sebagai sebuah pobia akan situasi sosial atau sebuah ketakutan yang melebihi batas wajar dari diperhatikan atau diniai orang lain. Pada titik sejarah ini, definisi pobia sosial menjadi sempit.
  • 1980: dalam edisi ketiga DSM (DSM-III), pobia sosial dimasukkan dalam diagnosis kejiwaan resmi. Dalam edisi ini, pobia sosial digambarkan sebagai sebuah ketakutan akan situasi performance, dan tidak memasukkan ketakutan akan situasi yang kurang formal seperti pembicaraan informal/biasa sehari-hari. Orang dengan ketakutan yang lebih luas seperti ini lebih mungkin didiagnosis sebagai avoidant personality disorder (yang tidak dapat disamakan dengan pobia sosial).
  • 1985: psikiater Michael Liebowitz dan clinical psychologist Richard Heimberg, mulai mengadakan penelitian mengenai pobia sosial. Sampai titik sejarah ini, penelitian akan gangguan jiwa ini kurang diadakan, sehingga beberapa menyebutnya sebagai ‘gangguan kecemasan yang terabaikan’.
  • 1987: sebuah revisi DSM-III membawa perubahan pada beberapa kriteria diagnostic. Sekarang, sebuah diagnosis mengharuskan adanya gejala-gejala yang menyebabkan ‘interference or marked distress’/ ‘ kecemasan ekstrim yang dapat dengan mudah terlihat’ dari pada sekedar ‘significant distress’. Pada titik ini juga dimungkinkan untuk mendiagnosis pobia sosial dan avoidant personality disorder pada pasien yang sama. Akhirnya, term ‘generalized social anxiety disorder’ / ‘gangguan kecemasan sosial yang mempengaruhi sebagian atau seluruh tubuh’ muncul yang menunjuk pada bentuk gangguan yang lebih parah dan meluas.
  • 1994: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders II (DSM –II) dipublikasikan dan term/kosakata social anxiety disorder (SAD) diganti dengan social phobia. Term baru ini digunakan untuk menunjuk betapa luasnya ketakutan yang ada dalam gangguan ini. Pada edisi baru ini, gangguan ini didefinisikan sebagai sebuah ‘ketakutan yang dapat jelas terlihat dan terjadi dalam waktu lama akan satu atau lebih situasi sosial atau performance, dimana orang yang bersangkutan diexpose/diperlihatkan pada orang asing/tak dikenal atau ada kemungkinan diperhatikan oleh orang lain”. Kriteria diagnostic sedikit dirubah dari DSM-III.
  • 1995 – sampai sekarang: sejak dipublikasikannya DSM-IV, banyak penelitian yang difokuskan pada SAD. Teknik Cognitive-behavioral therapy dikembangkan dan didukung oleh fakta atau informasi dari investigasi ilmiah. Pada waktu yang sama, 4 treatment obat (Paxil, Zoloft, Effexor, and Luvox) diterima untuk mengatasi SAD. Dengan adanya perhatian yang meningkat, banyak orang yang sebelumnya mungkin misdiagnosis atau malah tidak terdiagnosis sama sekali dapat menerima pertolongan yang dia butuhkan. Tapi kalau di indonesia ya belum tentu ding!
Sources:
Weiner IB, Freeheim DK. Handbook of psychology. New York: John Wiley & Sons; 2004.
Furmark T. Social phobia: From epidemiology to brain function [dissertation]. Uppsala, Sweden: Department of Psychology, Uppsala University; 2000.


Dibahasaindonesiakan sekedarnya dari: http://socialanxietydisorder.about.com/od/overviewofsad/a/history.htm

Aku Hidup Terasing

note: tulisan ini saya ambil dari situs suara merdeka, atas ijin penulisnys saya masukan dalam blog ini.

Berdiri dan berbicara di depan umum bagiku adalah neraka. Aku menghindar dan terasing dari kehidupan sosial.

Aku tidak tahu sejak kapan mengalami ketidakwajaran ini. Mungkin ketika aku masih anak-anak. Aku memang seorang yang amat pemalu dan pendiam. Aku berasal dari keluarga pas-pasan yang hampir semua anggota keluargaku pemalu dan pendiam. Aku pun mewarisi hal yang sama, bahkan dengan kadar yang lebih hebat.

Kupikir, rasa malu dan diamku adalah sesuatu yang wajar, bahkan merupakan sesuatu hal yang langka dan pantas dibanggakan. Kupikir, jarang ada orang yang pendiam dan tidak cerewet. Akan tetapi, lama-lama aku merasa tidak menyukai keadaanku sendiri. Aku mulai merasa bahwa aku sangat kuper, bodoh dan hina. Aku tidak bisa bergaul, aku tidak mempunyai teman. Apalagi, aku ini pendek, jelek, hitam, tidak ada sesuatu yang menarik sedikitpun padaku. Karena itu, aku selalu merasa tidak nyaman jika berada dengan orang lain, bahkan keluarga sendiri. Aku merasa mereka selalu melihat ke arahku, padahal aku tahu itu hanya perasaanku saja. Aku tidak pernah bisa tampil di depan umum. Aku selalu gemetar dan deg-degan, jika tampil di depan orang ataupun menghadapi situasi sosial seperti berbicara dengan orang, bertemu dengan orang. Aku juga tidak berani menatap mata orang yang berbicara denganku.

Aku benar-benar merasa sangat menderita karena aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan karena perasaan yang selalu menghalangiku itu. Aku merasa kalau aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini, aku sendiri, tidak ada orang yang mengerti dan menemaniku. Tuhan benar-benar tidak adil! Sering terbersit keinginan untuk mengakhiri hidup ini, namun aku tetap bertahan demi keluargaku dan demi pertanggungjawabnku pada Allah di akhirat nanti.

Aku mencoba tersenyum dan menghibur diri atas perlakuan orang-orang yang sering membuat hatiku sakit. Aku tahu, mereka tidak bermaksud menyakitiku. Tetapi dengan mereka mengatakan kalau aku seorang pendiam, dengan mereka tidak mau bergaul denganku, walaupun mereka tidak menunjukkan secara eksplisit, tapi aku tahu itu sungguh sangat menyakitiku.

Aku takut menghadapi masa depanku, apalagi aku adalah seorang mahasiswi akuntansi yang pasti akan berhubungan dunia bisnis yang banyak bertemu dengan orang dan memerlukan tampil di depan. Aku benar-benar merasa stress, depresi, tidak hidup, bahkan hampir gila.

Setelah aku mencari tahu di internet, ada gangguan jiwa yang sesuai gejalanya denganku. Ternyata itu adalah phobia sosial atau social anxiety. Aku telah mencoba berobat ke psikolog, tepatnya berkonsultasi, tetapi hasilnya nihil. Aku juga telah mencoba ke therapist, namun aku masih belum bisa sembuh karena terbentur biaya. Karena harus menjalani terapi dalam beberapa sesi. Untuk "sembuh" ternyata aku butuh lebih dari keinginan saja, harus didukung dana. Apa yang harus aku lakukan. Aku nyaris putus asa, sangat-sangat kehilangan harapan, seolah hidupku tanpa cahaya.

Aku hanya berharap, suatu saat nanti aku bisa menjadi orang yang normal, menikmati nyamannya hidup tanpa fobia. Aku berharap ada keajaiban, ada dermawan yang mau mengulurkan tangannya untuk membantuku. Kalaupun impianku tidak terwujud, aku tetap seperti ini sampai akhir hidupku, aku hanya bisa pasrah. Tapi, selama hidup, aku akan terus berusaha. Aku yakin, Allah akan selalu mendengar harapan hambanya.

Jeritan hati Scorpion Girl di Semarang

Sekolah pertamaku

Entah sejak kapan aku mulai punya pobia sosial. Kalau aku inget masa kecilku, kayaknya sudah ada bibit pemalu atau sekedar kecenderungan untuk menjadi pemalu, tapi mengapa harus jadi poby ya. Ni sedikit cerita tentang masa kecilku.

Hari pertama sekolahku, TK, aku berangkat tanpa diantar ibu atau siapapun, itu pun bukan pada waktu penerimaan siswa baru atau pada ajaran baru. Jadi begini, waktu kecil, semasa sebelum sekolah, aku suka main ke SD di desaku nonton orang-orang lagi sekolah. Kata kakakku yang paling tua, yang waktu itu masih SMA, dia dimarahin ibuku gara-gara aku belum mandi dan masih tampang ingusan bangun tidur main ke SD, malu-maluin kata ibuku. Tugas kakakku tiap pagi tu mandiin aku sebelum dia berangkat sekolah. Aku juga inget, suatu sore aku di depan pintu kelas 6 liat mbak-mbak dan mas-mas yang lagi les. Aku kagum sama pak guru yang lagi ngajar sambil nulis rumput di papan tulis. Aneh kataku, rumput kok bisa dibaca. Tiba-tiba hujan deras, pak guru nyuruh aku masuk biar nggak kena air hujan. aku masuk dan duduk dilantai dalam kelas dekat pintu bersandar dinding sambil terus saja kagum. Lagi-lagi, pak guru ngegambar rumput. Yang aku suka adalah ketika pak guru ngasih titik diatas rerumputan itu, bunyinya tok tok keras. Dirumah aku turu gaya pak guru, pake batu bata aku sok nulis di depan rumah, buat rumput panjang bersambung naik turun, kadang-kadang aku kasih titik di atasnya dengan mantab, tok tok. Mungkin ini membuatku jadi pengin sekolah.

Suatu pagi, karena aku kepengin banget sekolah, sehabis mandi waktu mau ganti baju aku bilang ma ibuku, ‘bu, aku sekolah ya!’. Ibuku mengiyakan trus aku di kasih baju setelan warna kuning, maksudnya baju sama celananya kompakan setelan dari toko, aku pun berangkat ke TK di desaku, sendiri. Tiba di sekolah, ada anak yang teriak-teriak, namanya desi, ‘e, didik sekolah, didik sekolah’, semua anak pada ngeliatin aku dech. Baru agak siangan ibuku ke TK daftarin aku jadi siswa baru.

So, sejauh ini, ketika aku mulai masuk ke TK, aku belum poby.

Kamis, 16 Oktober 2008

catatan ketemu dokter

Rangkumanku bertemu dengan dokter pada hari selasa 14 oktober 2008.
Note: apa yang saya tulis berdasarkan apa yang saya ingat dan saya pahami dari penjelasan dokter. Tidak ada catatan atau rekaman sehingga sangat mungkin terjadi kesalahan karena kesalahan pemahaman saya.
1. Boleha minta propranolol?
Boleh, kerja dari propronolol adalah memperlambat kerja jantung, ngerem denyut jantung, supaya kita lebih kalem. Obat ini untuk orang dengan efek fisik yang berlebihan karena cemas, misalnya tangan yang gemetaran dalam presentasi. Sebenarnya obat ini diperuntukkan untk penderita hipertensi dalam menurunkan tekanan darahnya. Untuk sosial pobia, Obat ini diminum bila perlu, sebelum menghadapi situasi yang dianggap gawat, agar lebih bisa mengendalikan tingkah. Perbedaan dengan alprazolam – yang sama-sama diminum bila perlu, adalah propranolol tidak menimbulkan efek kembalinya cemas setelah obat tidak diminum lagi. Artinya, dua-duanya berfungsi untuk jangka pendek, tapi efek sampingnya dan cara kerjanya beda. Kalo alprazolam, kerjanya adalah mengurangi adrenalin dalam tubuh, karena orang yang cemas, takut, sebagai bentuk pertahanan diri, akan menghasilkan adrenalin berlebih. Misalnya orang yang melihat macan didekatnya akan merasa takut, adrenalin meningkat, tubuh merespon agar segera lari untuk menyelematkan diri. Kira-kira begitu. Alprazolam boleh diminum secara rutin, tetapi tidak boleh berhenti mendadak untuk tidak minum. Karena bisa menimbulkan efek samping munculnya gejala cemas yang mungkin bisa lebih.
Catatan:
Sebelumnya saya diberi 2 jenis obat. Pertama adalah fluoxetin. Ini memiliki efek jangka panjang dan lebih disukai untuk mengatasi pobia sosial. Yang kedua adalah propranolol yang diminum bila perlu untuk membantu mengatasi atau melewati situasi-situasi yang ditakuti. Seminggu kembali ke dokter, saya bilang propranolol nya nggak terlalu ngefek buat saya, baru saya dikasih alprazolam. Dokternya ngijinin, klo perlu diminum bareng. Minumnya separo dulu, klo kurang ngefek baru tambah lagi. Saya berpendapat propranolol lebih dipilih dokter sebagai alternatif pertama karena memiliki efek samping yang lebih ringan daripada alprazolam. Tapi, lumayan juga sih alprazolamnnya, bikin cemas berkurang. Saya minta propranolol lagi Setelah baca di forum socialphobiaworld, yang punya pengalaman minum propranolol bilang enakan kalau minum propranolol sebelum menghadapi situasi gawat. Terus terang, pertamanya saya nggak begitu percaya sama obat.
2. Pengaruh dan efek samping obat buat organ tubuh, semisal hati dan ginjal?
Semua obat punya efek samping, tidak hanya obat dari psikiater saja. Lha wong, makan nasi aja ada efeksampingnya kalau makannya kebanyakan: kekenyangan nggak bisa napas. Jadi, kalau diminum sesuai aturan dan takaran nggak apa-apa. Setiap orang takarannya beda-beda, dan sudah diperhitungkan oleh dokter.
3. Bagaimana cara menghadapi rasa takut jika bertemu atau berbicara sama orang?
Beda-beda tiap orang, yang berkepentingan harus datang sendiri ke dokter. Karena dokter perlu mengetahui detail sebab rasa takutnya dan perlu untuk melihat ekspresi orang berkepentingan secara langsung. Solusi tidak bisa langsung dikasih, perlu proses, pertemuan yang berlanjut, diskusi, untuk membuat suatu generalisasi.
4. Cognitive behavioral therapy?
Cognitive berkaitan dengan pikiran, atau pola pikir. Untuk sosial pobian, ada cara berpikir yang meluntir atau salah mengenai sesuatu yang harus diluruskan. Salah satunya adalah dengan memberikan pengertian yang benar dan jelas mengenai sosial pobia agat pasien dapat mengerti yang dialaminya. Seterusnya adalah dengan diskusi-diskusi untuk meluruskan jalan pikirannya yang salah. Ini terjadi karena kebiasaan cara berpikir yang terbentuk sejak lama. Misalnya kerena orang tua yang sering menyalahkan anak dan bilang ‘gowblok’ ke anak tersebut. Behavioral saya tidak menangkap begitu jelas. Intinya, Behavioral berkaitan dengan perilaku, jadi klien atau pasien disuruh untuk menghadapi situasi yang ditakuti kemudian menulis apa saja yang dirasakan, kemudian didiskusikan untuk mencari solusi. CBT yang beneran dilakukan dengan kontrak antara klien dan therapist. Ketemu secara rutin, misalnya seminggu sekali, tidak boleh terlambat apalagi bolos, jika memang, harus ada alasan yang jelas.
5. Hipnotherapy?
Therapy dengan hipnotis. Di indonesia, yang beneran hypnotherapy belum ada.
6. Apa SP bisa nurun ke anaknya?
Bisa ya bisa tidak. Kedua orang tua yang berambut keriting belum tentu anaknya juga keriting. Faktor turunan terjadi hanya ketika sperma dan ovum bertemu, setelah itu, selama tumbuh dalam kandungan dan seterusnya, faktor luar/lingkungan sangat menentukan. Misalnya asupan makanan bayi ketika dalam kandungan.
7. Apa dengan ikut seminar dll bisa nyembuhin?
Dokter nggak bisa mastiin, kesembuhan datangnya dari tuhan. Influenza yang biasanya seminggu sembuh saja, ketika memberikan obat dokter tidak berani bilang ‘anda pasti sembuh dengan meminum obat yang saya berikan’. Yang penting adalah motivasi untuk berubah dari pasien.
8. Apa pengaruhnya kalo ada orang nggak pernah ngomong/sangat minim terhadap kesehatan mental orang tersebut?
Pengaruhnya tidak sehat. Karena manusia adalah makhluk individu sekaligus sosial, disamping makhluk spiritual yang harus bersosialisasi untuk menjadi manusia seutuhnya.
9. Group therapy? Diskusi dengan sesama SP?
Dianjurkan dengan didampingi dokter atau psikolog untuk saling sharing dan mencari solusi menghadapi situasi yang ditakuti. Idealnya dalam satu kelompok 6-12 orang, dan anggotanya harus ajeg, tidak boleh tambal sulam.
10. Oxitocin dengan nasal spray?
Di indonesia belum ada. Obat ini Dihirup, seperti obat untuk asma, yang berfungsi menenangkan sementara waktu.
11. Apakan SP itu penyakit?
Bukan. Tidak ada yang sakit. Ini adalah disorder, atau gangguan.
12. Ada obat murah? Bedanya apa?
Obat yang dipergunakan untuk SP beragam. Untuk fluoxetin yang paling murah kira2 2700 per biji. Ada yang sampai belasan ribu. Jelas beda. Pada obat yang mahal aroma dan rasanya lebih enak. Kadang2 ditambahi zat-zat tertentu pada obat mahal agar lebih tahan lama didarah. Misalnya obat murah bertahan 6 jam, obat yang lebih mahal bertahan hingga 8 jam didarah.
13. Klo ada yang terlewat lain hari insyaA.

Rabu, 15 Oktober 2008

cerita seputar pobia


  • R.Kelly, Whoopi Goldberg dan Dalai Lama, termasuk kategori selebrities with Aviophobia, yaitu phobia terbang.
  • Kim Basinger, Rose McGowan dan si bintang Home Alone, Macaulay Culkin adalah penderita Agoraphobia, yaitu takut sama tempat umum dan keramaian. Aneh juga ya, ada seleb yang phobianya kayak gitu?
  • Penyanyi dan pencipta lagu, John Meyer punya 14 track di albumnya “Room for Squares”. Padahal track ke 13 nggak ada suara apa-apa alias hening selama 0,2 detik dan nggak ada title-nya di cover album. Kemungkinan besar, John Meyer pengidap triskaidekaphobia, takut sama angka 13!
  • Masih tentang triskadeikaphobia. Adolf Hitler juga penderitanya. Pesawat temput NAZI yang tadinya bernomer seri He-112 diganti menjadi He-100 untuk menghindari adanya seri He-113. And, do you notice, nggak ada mobil yang bernomer 13 di arena Formula 1 (F1). Mobil nomer 13 dihilangkan setelah ada dua pembalap meninggal memakai nomer tersebut.
diambil dari http://www.artiku.com/2008/04/17/fear-of-phobia/

salam pertama.

hai, namaku didik, aku punya sosial pobia. maksud dari aku buat blog ini adalah untuk sharing pengalamanku punya sosial phobia, dan, kalau mungkin, untuk tempat komunikasi, tukar pengalaman sama teman-teman yang juga punya atau pernah punya pobia sosial. konsep sosial pobia ini sendiri baru aku tahu sekitar bulan 4 tahun 2008. kalau gejalanya tentunya sudah aku rasakan sejak lama tapi aku gak tahu harus kunamakan apa ketidaknormalanku itu. sekarang aku lagi perawatan di psikiater, meski belum menjadi a normal person tapi aku sudah merasakan perbaikan. feel free to cantact me ya temen-temen.